Pertanyaan “mengapa Palestina tidak pernah benar-benar damai” tidak punya jawaban tunggal. Konflik Israel–Palestina adalah produk dari sejarah panjang, klaim teritorial yang saling bertabrakan, luka kolektif (termasuk peristiwa 1948 yang dikenal sebagai Nakba), fragmentasi politik internal Palestina, serta campur tangan dan kepentingan kekuatan regional dan global.

 

Untuk memahami kegagalan perdamaian, kita perlu melihat beberapa faktor struktural, historis, dan politis yang saling memperkuat.

 

1) Asal usul klaim dan trauma historis

Konflik modern berakar pada pertarungan klaim nasional dan demografis sepanjang abad ke-20: pembagian Mandat Inggris, keputusan PBB 1947, dan perang 1948 yang memunculkan jutaan pengungsi dan rasa ketidakadilan mendalam bagi rakyat Palestina (Nakba). Trauma kolektif ini menjadi dasar klaim hak kembali (right of return) dan menanamkan ketidakpercayaan yang berat antara kedua pihak.

 

2) Ketidakseimbangan kekuatan (power asymmetry)

Salah satu akar struktural kegagalan perdamaian adalah ketimpangan kekuatan—militer, ekonomi, dan diplomatik—antara Israel dan para perwakilan Palestina. Israel, sebagai negara berdaulat dengan dukungan internasional kuat, mampu membentuk realitas di lapangan (mis. kebijakan keamanan, kontrol perbatasan, dan perluasan permukiman). Ketika satu pihak memegang dominasi nyata, proses negosiasi menjadi tidak setara dan sulit mencapai solusi yang dirasa adil oleh pihak yang lebih lemah.

 

3) Isu inti yang sulit dikompromikan: perbatasan, pengungsi, Yerusalem, dan permukiman

Beberapa isu inti seringkali disebut “final status issues” karena menyangkut identitas dan hak dasar:

  • Perbatasan: Garis mana yang diakui sebagai negara Palestina? Garis pra-1967 (dengan pertukaran tanah) sering dijadikan dasar, namun kenyataan di lapangan sudah berubah karena permukiman.
  • Pengungsi: Jutaan pengungsi Palestina dan hak kembali mereka (atau kompensasi) sangat sensitif bagi Israel karena dapat mengubah demografi negara.
  • Yerusalem: Kota suci yang diperebutkan—baik sebagai simbol maupun sebagai target klaim politik—membuat kompromi sangat rumit.
  • Permukiman (settlements): Ekspansi permukiman di Tepi Barat dan statusnya menjadi penghalang nyata bagi pembentukan wilayah Palestina yang kontigu dan layak.

 

4) Fragmentasi politik Palestina dan perpecahan internal

Kepemimpinan Palestina tidak monolitik. Perpecahan antara Fatah (di Tepi Barat, PNA) dan Hamas (menguasai Gaza sejak 2007) melemahkan kapasitas negosiasi tunggal dan menciptakan dinamika di mana pihak Israel meragukan siapa yang harus diajak bicara atau menghadapi risiko bahwa komitmen yang diberikan tidak dapat ditegakkan di seluruh spektrum politik Palestina.

 

Ketika pihak Palestina terpecah, klausa-klausa perjanjian mudah runtuh karena kurangnya legitimasi atau kemampuan implementasi.

 

5) Kegagalan proses perdamaian formal — contoh Oslo dan pasca-Oslo

Proses perdamaian yang paling disebut-sebut—Perjanjian Oslo (1993)—awalnya dimaksudkan sebagai langkah sementara menuju solusi permanen. Namun implementasi yang kacau, kegagalan untuk menghentikan perluasan permukiman, dan pembunuhan tokoh pro-perdamaian (mis. Rabin) memicu kekecewaan luas. Banyak pengamat berargumen bahwa Oslo justru mengakar­kan ketidakseimbangan dan menormalisasi pendudukan alih-alih menyelesaikannya. Kegagalan sdg. proses formal menunjukkan: perjanjian tanpa mekanisme penegakan yang kuat dan tanpa perubahan realitas di lapangan sulit membawa perdamaian sejati.

 

6) Peran aktor eksternal — kepentingan regional dan internasional

Perdamaian tidak hanya soal dua pihak; aktor-aktor luar (AS, negara-negara Arab, UE, Iran, dll.) memiliki pengaruh besar. Dukungan politik-militer bagi Israel dari AS, sekaligus rivalitas regional (mis. Iran vs. sekutu Arab) mempengaruhi insentif dan tekanan terhadap kedua belah pihak. Selain itu, inisiatif seperti Arab Peace Initiative menawarkan solusi regional, tetapi implementasinya memerlukan konsistensi politik yang seringkali tidak ada.

 

7) Siklus kekerasan dan logika keamanan yang menutup ruang diplomasi

Kekerasan berulang (intifada, operasi militer lintas waktu) memperdalam ketakutan dan permusuhan. Bagi sebagian kalangan di Israel, prioritas utama adalah keamanan — yang sering diterjemahkan ke kebijakan keras dan kontrol ketat. Bagi sebagian rakyat Palestina, perlawanan bersenjata dan protes muncul dari rasa terampas dan putus asa. Siklus ini membuat kepercayaan (prasyarat perdamaian) makin tipis.

 

8) Kenyataan di lapangan menciptakan “fakta” yang menyulitkan solusi politik

Di luar perundingan, tindakan sehari-hari seperti pembangunan permukiman, pembatasan pergerakan, kontrol ekonomi, dan regulasi administratif menciptakan realitas baru yang sulit dibalikkan. Semakin lama status quo ini berjalan, semakin mahal dan sulit solusi yang melibatkan pembetulan (mis. pembongkaran permukiman atau rekonsiliasi hak pengungsi). Banyak pengamat menyebut ini sebagai “change the facts on the ground” — strategi yang menumpulkan peluang solusi dua negara.

 

Jalan keluar yang realistis? Beberapa pendekatan yang sering dibahas

Tidak ada resep instan, tetapi sejumlah unsur sering disebut perlu ada untuk peluang perdamaian yang lebih besar:

  1. Pendekatan berbasis keadilan dan keamanan simultan — solusi harus menjamin keamanan Israel dan hak dasar Palestina (negara merdeka yang layak).
  2. Dialog inklusif dan legitimasi — setiap perjanjian harus memiliki legitimasi luas di pihak Palestina (bukan hanya segelintir elite) dan dukungan regional.
  3. Mekanisme penegakan internasional — perjanjian yang lemah tanpa pengawasan/penegakan mudah dilanggar.
  4. Penanganan isu inti secara simultan — isu pengungsi, Yerusalem, dan perbatasan harus dibicarakan bersama, bukan ditunda terus.
  5. Mengurangi praktik yang mengubah realitas lapangan — moratorium pada pembangunan permukiman, pelonggaran blokade kemanusiaan misalnya, dapat membangun ruang untuk diplomasi.

 

Kita Bisa Ambil Bagian dalam Upaya Kemanusiaan

Konflik yang tidak selesai-selesai ini bukan hanya catatan sejarah geopolitik. Ada manusia, keluarga, ibu, anak, yang setiap hari berjuang untuk bertahan hidup.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan perang secara langsung.

Namun kita bisa membantu mengurangi rasa sakit yang mereka rasakan hari ini.

Salah satu cara paling langsung adalah memberikan dukungan kemanusiaan.

Anda bisa menyalurkan donasi melalui platform:

👉 forhumanityforhumanity.id


forhumanity adalah inisiatif penggalangan donasi kemanusiaan yang berfokus pada bantuan nyata untuk rakyat Palestina, mulai dari paket makanan, pengadaan obat-obatan, hingga dukungan pemulihan untuk anak-anak.

Sedikit dari kita mungkin terasa kecil,

namun bagi mereka yang sedang berjuang untuk hidup — itu bisa jadi sangat berarti.

Ayo, jadi bagian dari manusia yang membantu manusia lainnya.

 

 

Penutup — realisme, kesabaran, dan tekanan konsisten

Kenapa Palestina tidak pernah benar-benar damai? Karena konflik ini bukan hanya soal perjanjian di atas meja—ia dikokohkan oleh sejarah, luka, ketimpangan kekuatan, politik domestik yang pecah, dan tindakan sehari-hari yang membentuk realitas. Perdamaian yang tahan lama memerlukan perubahan substantif pada keseimbangan kekuatan dan implementasi nyata atas hak dan keamanan pihak yang dirugikan — sesuatu yang memerlukan waktu, tekanan politik internasional yang konsisten, serta keberanian politik dari pemimpin di kedua sisi.

Jika tujuan kita adalah melihat perdamaian yang adil dan berkelanjutan, upaya itu harus menangani akar masalah — bukan hanya gejolak di permukaan. Tanpa itu, setiap gencatan senjata akan tetap sementara dan setiap perjanjian akan berisiko kembali runtuh.